Sign In

Blog

Latest News
Belajar dari ‘Orang Jawa’ Suriname

Belajar dari ‘Orang Jawa’ Suriname

Suriname terletak Amerika Latin tepatnya bersebelahan dengan negara legenda sepak bola Brazil. Sekitar 75 ribu Imigran Jawa yang dibawa jauh dari rumah nya ke Suriname oleh Hindia Belanda antara tahun 1890-1939 membuat kita harus banyak belajar.

Lama tinggal dan beranak-pinak di tanah asing nan jauh membuat banyak penduduk Jawa di Suriname hilang kontak dengan keluarga di kampung halaman. Meskipun kini sudah mencapai generasi ke -5, ‘rasa’ Jawa tetap masih terasa dan terlihat lho. Apa yang menarik untuk dipelajari? Yuk cek fakta-fakta berikut.

1. Bukan satu-satunya suku di Suriname

Hal yang pertama kali membuat kita belajar dari Orang Jawa di Suriname adalah konsistensi pada budaya asli mereka. Meskipun Jawa bukan satu-satunya suku di sana tetapi budaya Jawa tetap dapat dirasakan di Suriname. Menurut data dari Wikipedia.com  penduduk suriname terbesar berasal dari keturunan Hindustani (24,4%) kemudian Kreol (17,7%) Brusnengro dan Marun (14,7%), Keturunan Jawa (14,6%), dan kelompok lain (6,5%).

diadona.id

2. Sebagian besar dari Jawa Tengah

Menurut Hein Vruggink, dalam Surinaams-Javaans – Nederlands Woordenboek (2001), sekitar 70 persen orang Jawa di Suriname berasal dari Jawa Tengah, 20 persen dari Jawa Timur, dan 10 persen dari Jawa Barat.

3. Menggunakan Bahasa Jawa Suriname

Bahasa Jawa Suriname adalah salah satu sekian bahasa yang digunakan oleh masyarakat sehari-hari. Hingga kini bahasa Jawa Suriname memiliki 65.000 penutur di Suriname dan 30.000 penutur di Negeri Belanda.

Orang-orang jawa pada saat dikirim ke suriname. id.quora.com

4. Didatangkan menggantikan pekerja asal India yang konon ‘banyak ulah’

Pada tahun 1870 pemerintah Belanda menandatangani kontrak kerjasama dengan Inggris untuk mendatangkan pekerja asing ke Suriname yang merupakan jajahan Inggris. Perjanjian ini mulai diimplementasikan secara resmi pada tahun 1873 – 1917 dengan mendatangkan pekerja migran dari India lebih dulu. Baru setelah itu digantikan oleh pekerja asal Jawa. Konon datangnya Imigran dari Jawa untuk menggantikan kuli asal India / Hindustani yang dianggap banyak ulah.

5. Berkiprah di kancah Politik

Raymond Sapoean. Riaugreen.com

Orang-orang Jawa di Suriname pada jaman dahulu juga aktif berjuang di kancah politik. Ada Persekutuan Bangsa Indonesia Suriname (PBIS) dan Kaum Tani Persatuan Indonesia (KTPI). Namun saat ini, yang eksis hanya KTPI, Pertjaja Luhur dan Pandawa Lima. Dan perjuangan mereka juga tidak sia-sia, beberapa tahun terakhir, partai-partai Jawa itu, mendapat kursi di Parlemen Suriname. Mereka yang duduk di parlemen antara lain: Paul Somohardjo, Martha Djojoseparto, Soetimin Marsidh, Hendrik Sakimin, dan Ronny Tamsiran. Bahkan partai Pandawa Lima pernah mencalonkan pimpinannya, Raymond Sapoean dalam Pilpres Suriname 2015 meski belum berhasil.

6. Pernah pulang ke Indonesia namun kembali lagi ke Suriname

Rasa cinta pada negeri asal pun tetap terpatri pada diri. Setelah Indonesia merdeka, banyak orang Jawa Suriname yang ingin pulang ke Jawa. Sebanyak 7 ribu orang sempat pulang ke Indonesia, namun pemerintah mengarahkan mereka ke Tongar, Sumatra Barat, karena Jawa sudah padat. Buruknya fasilitas hidup yang disediakan pemerintah di daerah tersebut membuat sebagian orang Jawa Suriname itu memilih kembali ke Suriname.

Orang Jawa yang dikirim ke Suriname, difoto pada sekitar tahun 1880-1900 (Credit foto Tropen Museum) id.quora.com

Tentu saja. Mereka datang untuk pulang ke Jawa, tapi malah ditransmigrasikan lagi. Mereka menolak berulangnya sejarah, seperti terjadi pada leluhur mereka. Kembali ke Suriname yang masih Jawa, tentu lebih baik daripada di Indonesia tapi tidak di Jawa – baca Tirto.id.

7. Masakan Jawa Masih Banyak Ditemukan

Saoto. gotravelly.com

Selain bahasa makanan khas Jawa juga hingga saat ini masih ada dan tidak sulit ditemukan hanya mungkin rasanya agak beda. Seperti yang dituliskan Emha Ainun Nadjib pada Jejak Tinju Pak Kiai (2008)

“Pecel dan soto (di Pasar) Alberqueque itu ramuan dan rasanya juga tidak nyamleng, saya bayangkan itu pecel soto abad ke-18, dimasak oleh orang yang tidak ahli,” tulisnya.


Soto Lamongan buat pengganti rindu kampung halaman..


8. Nama-nama desa seperti di Indonesia

Cukup banyak desa yang dinamakan dalam bahasa Jawa seperti Poerwodadi, Tamanredjo, Sidoredjo, Koewarasan, dan sebagainya. Valid-nya silahkan cek aja di google.

9. Didi Kempot (Alm.) Sangat Populer di Suriname

Berhubung masih keturunan Jawa ternyata selera musiknya pun tidak berbeda dengan orang Jawa di Indonesia. The Goodfather of Brokenhart Didi Kempot (alm.) adalah idola di sana. Ini ditegaskan oleh Mendagri. Suriname yang juga keturunan Jawa Soewarto Moestadja saat konferensi di JCC bebrapa tahun lalu.

10. Hingga kini aktif berkomunikasi dengan sesama orang Jawa se-dunia.

Warga Keturunan Jawa di Suriname banyak yang telah berkunjung ke Indonesia untuk sekedar melihat kampung leluhur dan juga bertemu sanak family. Hingga kini masih aktif berkomunikasi dalam grup yang beranggotakan orang-orang jawa di seluruh dunia. Buat yang mau bergabung silahkan cari di facebook ya. Nama Grupnya Sambung Roso Java Suriname-Indonesia

Foto-foto suasana di Suriname

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *