Sign In

Begalan, Menanamkan Makna Pernikahan lewat Tradisi

Begalan, Menanamkan Makna Pernikahan lewat Tradisi

Pernikahan adalah salah satu tujuan penting dalam hidup manusia. Dari pernikahan kita akan mendapatkan kesempatan untuk memperoleh keturunan demi melanjutkan tugas dan kewajiban sebagai insan manusia. Namun, proses yang mulia tersebut seringkali kandas di tengah jalan karena pernikahan yang tidak disertai pemahaman filosofi kehidupan pernikahan itu sendiri. Kurangnya pendidikan Pra-nikah di masyarakat inilah yang menjadi Biang keroknya. Padahal dari sebuah tradisi kuno, terungkap bahwa pendidikan pra nikah telah ada sejak jaman nenek moyang. Salah satu tradisi menanamkan makna pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa ini adalah Begalan. Begalan adalah cara menanamkan makna pernikahan lewat tradisi.

Prinsip hidup, teguh pendirian dan wawasan luas, syarat bagi pengantin pria.

Begalan berasal dari kata ‘begal’ yang artinya rampok, atau rampas. Untuk mengartikannya, Begalan bisa berarti Perampokan, perampasan. Dalam tradisi begalan lebih tepat dalam gambaran sebuah adegan penghadangan untuk menghalangi iringan calon pengantin Pria menuju ke rumah calon pengantin wanita. Yang menghadang adalah sesosok makhluk gaib yang tiba-tiba datang menjelma menjadi manusia dengan tujuan meminta seluruh barang seserahan milik rombongan tersebut. Sontak pimpinan rombongan akan mempertahankan diri dan terjadilah perdebatan sengit.

Rombongan pengantin pria harus menang dalam dialog intelektual untuk dapat melanjutkan perjalannya. Ini mungkin memiliki makna tersendiri. Bahwa calon pengantin pria harus memiliki bekal hidup. Bekal yang dimaksud adalah prinsip hidup, teguh pendirian, dan wawasan yang luas sebelum meminang gadis pujaannya.

Foto : purwokertokita.com

Sarat Simbol dan Makna

Inti dari tradisi begalan adalah perdebatan sengit dalam memperebutkan barang seserahan. Satu pihak meminta barang seserahan, sedangkan pihak lainnya mempertahankan. Maka terjadilah adu argumen tentang makna barang seserahan itu. Beberapa benda tersebut itulah yang menjadi simbol-simbol kehidupan pernikahan, antara lain :

  • Siwur ( gayung batok kelapa ) : Isine aja diawur ( isinya jangan disebar )
  • Beras kunir : Bergas waras tur weninging Pikir ( Sehat bugar dan pikiran jernih)
  • Kukusan (anyaman bambu berbentuk kerucut untuk mengukus). Bermakna pengantin berdua harus seiya-sekata seperti gunung yang tak goyang meski badai menerpa).
  • dan sebagainya.

Sejarah Begalan Banyumas

Tradisi begalan berdasarkan cerita Titut E.P. (seniman dan pelaku tradisi Begalan Banyumas), bermula dari kisah Keluarga Adipati ( konon di daerah Banyumas) yang mengutus rombongan untuk meminang putri seorang Demang Gumelem salah satu daerah di Kadipaten Wirasaba (Kini Banjarnegara). Mereka melakukan perjalanan jauh dan penuh tantangan. Mereka juga harus melintasi sungai dengan perahu gethek (rakit dari bambu-red).

Seseorang yang bernama Ki Ageng Mranggi memimpin rombongan tersebut. Di tengah perjalanan datang menghadang sesosok makhluk gaib. Makhluk tersebut meminta jatah dari barang-barang bawaan. Maka, terjadilah dialog sengit antara Ki Ageng Mranggi dengan Makhluk Gaib tersebut. Akhirnya, Ki Ageng Mranggi memenangkan perdebatan tersebut. Sehingga sang makhluk pun pergi dan proses lamaran tersebut berlanjut dengan lancar sampai pada prosesi pernikahan.

Tradisi Begalan masih terjaga dengan baik, khusunya di Kab. Banyumas. Masih sering kita jumpai di acara-acara pernikahan lokal. Namun, seringkali hanya sekedar ke arah sajian budaya. Sementara penanaman makna nilai-nilai pernikahan kurang tersampaikan. Ungkap Titut. (dmr)

Related Posts

Tinggalkan Balasan