Sign In

Cermati, 5 Perbedaan Mengelola Bisnis Wisata dengan Sektor Jasa Lain

Cermati, 5 Perbedaan Mengelola Bisnis Wisata dengan Sektor Jasa Lain

Sobat Milenial perlu tahu, mengelola bisnis wisata nggak bisa dianggap sebelah mata. Sebab bisnis wisata memiliki perbedaan dengan sektor jasa yang lain. Meski banyak yang mengatakan bahwa, kunci sukses dari keberhasilan dalam meningkatkan usaha atau bisnis yang berhubungan dengan jasa serta penjualan adalah dengan berinteraksi dan menjalin hubungan baik dengan customer. Namun, mengelola bisnis wisata ternyata jauh lebih komplek dibanding bisnis jasa yang lain loh.. Mau tahu kenapa? Yukk, cermati, 5 Perbedaan mengelola bisnis wisata dengan sektor jasa lain.

1. Belum bisa digantikan sepenuhnya oleh layanan IT

Dari sisi pelayanan, bisnis wisata hingga saat ini belum bisa menggantikan sepenuhnya pelayanan sumber daya manusia. Sebagai contoh sektor perbankan sebagian besar metode pelayanannya sudah bisa menggantikan dengan sistem IT. Berbeda dengan sektor transportasi, yang hingga kini tetap bertumpu pada pelayanan manusia.

2. Expectasi Konsumen yang berbeda-beda

Perlu diketahui sob.., Konsumen akan hadapi di binis wisata lebih kompleks, karna karakter si Customer berbeda-beda, sehingga cara melayaninya pun akan disesuaikan dengan si pengunjung itu. Dalam arti kita memberikan pelayanan itu sebisa mungkin melebih ekspektasi dari customer tersebut. Sehingga customer tersebut merasa puas dengan apa yang kita berikan.

a man and a woman talking at the reception area
Photo by Mikhail Nilov on Pexels.com

3. Manusia memuaskan manusia

Gatut Budi Santoso, salah satu owner PT. Gatam Mutiara Timur yang bergerak di Konsultan Bisnis dan Management mengatakan, bisnis wisata manusia (konsumen) hanya dapat terpuaskan secara maksimal oleh manusia.

“Boleh percaya boleh tidak, seindah apapun fasilitasnya, customer kita hanya kan terpuaskan lebih oleh pelayanan manusia”. kata Gatut.

4. Keterlibatan kuat Unsur Budaya

Berkaitan dengan sebegitu eratnya dengan pelayanan manusia. Maka, unsur budaya melekat kuat pada kualitas pelayanan. Ini akan menjadi customer impression sehingga akan bercerita dan kembali lagi.

Mempertahankan destinasi alam perlu keterlibatan banyak pihak dan cakupan yang luas.
Buat kalian yang mengelola bisnis destinasi alam. Perlu pemahaman tinggi pada seluruh komponen masyarakat sekitar. Menjaga alam dan lingkungan tentu saja tidak mungkin dilakukan oleh kalian tanpa keterlibatan seluruh komponen masyarakat dan pemerintah tentunya.

5. Perlu perencanaan dan business plan yang kuat.

Menurut Gatut Budi Santoso saat diskusi di kantor nya PT. Gatam Mutiara Timur mengungkapkan, banyak yang minat dengan prospek bisnis ini. Karena memang secara visual kelihatan mudah untuk menjalankannya. Namun, hampir Tiap Bulan diseluruh indonesia banyak yang membuka baru, dan selalu ada yang tutup dikarenakan sepi dan merugi.

Gatut Budi Santoso
Gatut Budi Santoso, Owner PT. Gatam

“Pertanyaan nya, mengapa bisnis mereka sepi / tidak laku atau merugi ? Jawabannya mudah. Rata-rata bisnisnya merugi akibat beberapa hal seperti, Kurangnya informasi tentang :

  • Perkembangan / perubahan perilaku pasar.
  • Tidak melakukan riset bisnis (Feasibility Study).
  • Mengabaikan Cast Flow.
  • Tidak ter-layout dan ter landscape dalam orientasi jangka panjang.
  • Management yang konvensional.
  • Tidak adanya marketing plan / tidak menjalankan marketing plan.
  • Konsep Marketing Monoton.
  • Tidak ada Target Pertumbuhan dan Perkembangan
  • Tidak adanya indikator keberhasilan
  • Kurang berani melibatkan pihak ketiga yang lebih berpengalaman.
  • Team tidak solid
  • Sistem Management tidak berjalan
  • Target Market tidak jelas
  • Dll

6. Modal relatif besar

Memulai bisnis wisata kalian perlu mempersiapkan banyak hal mulai dari infrastruktur, management, marketing dan promosi. Kemudian, untuk menjangkau expektasi lokal maupun luar daerah maka modal pun harus menyesuaikan dengan kompetisi usaha wisata di sekitarnya. (dmr)

Related Posts

Comments (2)

Tinggalkan Balasan